Home Artikel Libur Terakhir Bocah Pesantren

Libur Terakhir Bocah Pesantren

130
0
SHARE
Libur Terakhir Bocah Pesantren

Keterangan Gambar : Naufal seorang bocah dua belas tahun kepulangan itu justru menjadi akhir perjalanan hidupnya. Di balik dinding rumah yang tampak biasa, tersembunyi luka, tangis, dan kekerasan yang tak pernah ia ceritakan sepenuhnya kepada dunia.


Ugdnews.com - Selasa 3/3/2026.

Libur Ramadhan seharusnya menjadi musim bahagia bagi anak-anak yang merindu pelukan keluarga. Namun bagi Naufal seorang bocah dua belas tahun kepulangan itu justru menjadi akhir perjalanan hidupnya. Di balik dinding rumah yang tampak biasa, tersembunyi luka, tangis, dan kekerasan yang tak pernah ia ceritakan sepenuhnya kepada dunia.

Naufal adalah santri kelas enam di sebuah pesantren kecil di pinggiran kota. Tubuhnya kurus, wajahnya teduh, dan sorot matanya selalu menyimpan kerinduan yang tak pernah benar-benar selesai. Sejak kedua orangtua berpisah dan masing-masing menikah lagi, pesantren menjadi rumah keduanya tempat ia belajar mengaji, menahan rindu, dan menguatkan diri.

Setiap kali bulan Ramadhan tiba, anak-anak lain menyambut waktu pulang. Mereka membayangkan sahur bersama keluarga, berbuka dengan hidangan hangat, dan salat tarawih di samping ayah atau ibu. Naufal pun ingin merasakan hal yang sama. Ia ingin menjadi anak biasa, bukan anak yang harus memilih pulang ke mana.

Ibu kandungnya kini tinggal jauh bersama keluarga barunya. Hubungan mereka tetap terjalin, namun Naufal merasa canggung. Ia takut kehadirannya mengganggu. Maka ketika libur puasa tiba, ia memilih pulang ke rumah ayahnya. “Aku ingin bersama Abi,” katanya kepada ustaz di pesantren.

Ayahnya menyambut dengan hangat. Pelukan itu lama, seolah memaafkan hari-hari yang terlewat. Naufal tersenyum lebar ketika melihat kamar kecil yang telah disiapkan untuknya. Di meja ada sarung baru dan peci putih. “Biar kamu nyaman tarawih,” kata ayahnya bangga.

Namun kehangatan itu tidak sepenuhnya mengalir dari seluruh penghuni rumah. Ibu tirinya, hanya tersenyum tipis. menyampaikannya datar, suaranya dingin. Naufal berusaha sopan, membantu mencuci piring, menyapu lantai, dan menjaga adik tirinya yang masih balita. Ia ingin diterima.

Hari-hari pertama berjalan biasa. Tetapi perlahan, teguran ibu tirinya berubah menjadi bentakan. Kesalahan kecil seperti gelas yang kurang bersih atau nasi yang terlalu lembek menjadi alasan kemarahan. Naufal lebih sering menunduk. Ia tidak pernah melawan.

Suatu sore, tetangga mendengar suara tangis dari dalam rumah. Namun tak seorang pun benar-benar mengetahui apa yang terjadi. Naufal kemudian terlihat dengan bekas kemerahan di lengannya. Ketika ditanya, ia hanya berkata, “Tersiram air panas sedikit.” Ia tersenyum, meski senyum itu gemetar.

Kekerasan itu berulang. Lebam di kaki dan punggungnya semakin jelas. Luka bakar kecil menghiasi kulitnya. Naufal menyembunyikannya di balik baju panjang. Ia takut ayahnya marah, tetapi lebih takut lagi jika membuat keadaan semakin buruk.

Puncaknya terjadi pada suatu malam menjelang sahur. Dari pengakuannya yang sempat terdengar sebelum semuanya terlambat, ia meminum air yang baru saja mendidih. Tubuhnya yang kecil tak mampu menahan panas yang membakar tenggorokan dan lambungnya. Ia terjatuh, menangis, dan menangis memanggil dia.

Ayahnya terbangun oleh suara ribut. Naufal sudah lemah. Tubuhnya penuh luka—bakar dan luka yang tak lagi bisa disembunyikan. Panik dan bingung bercampur menjadi satu. Ia dibawa ke rumah sakit, tetapi kondisinya terlalu parah.

Di ruang perawatan, Naufal sempat membuka mata. Ia memandang ayahnya lama sekali. Bibirnya bergetar, seolah ingin mengatakan sesuatu. Mungkin maaf. Mungkin rindu. Mungkin hanya ingin memastikan bahwa ia dicintai.

Tak lama kemudian, mesin pemancar detak jantung berbunyi panjang. Naufal pergi dalam usia dua belas tahun, di bulan yang seharusnya penuh rahmat. Ia meninggalkan luka yang tak terlihat, namun terasa bagi siapa pun yang mendengar kisahnya.

Kabar kematian menyebar dengan cepat. Banyak yang tak percaya bahwa seorang anak yang dikenal pendiam dan sopan harus mengalami akhir yang begitu tragis. Di pesantren, teman-temannya menggelar doa bersama. Ustaz-ustaz terdiam, menahan air mata.

Rumah itu kini sunyi. Ayahnya dihantui penyesalan mengapa ia tak lebih peka pada tanda-tanda yang ada. Mengapa ia tak melihat lebam itu lebih awal. Setiap sudut rumah mengingatkannya pada tawa kecil yang kini telah tiada.

Kisah Naufal bukan sekadar cerita tentang kekerasan. Ia adalah cermin tentang rapuhnya seorang anak yang hanya ingin pulang, ingin dicintai, dan ingin merasa aman. Di balik statistik dan berita singkat, ada hati kecil yang pernah berdebar penuh harap.

Ramadhan berikutnya akan tetap datang. Anak-anak akan tetap pulang membawa koper kecil dan senyum besar. Namun bagi sebagian dari mereka, rumah belum tentu menjadi tempat paling aman.

Semoga kisah ini menjadi pengingat bahwa setiap anak berhak atas kasih sayang, bukan amarah; Pelukan, bukan luka. Dan semoga tak ada lagi Naufan Naufal lain yang harus mengakhiri hidupnya hanya karena ingin merasakan hangatnya keluarga.

( Red )

Sumber: Dwi Taufan Hidayat.

Iklan Detail Video

iklanhomebawah