Home Artikel Menjadi Tua Dengan Pilihan Sunyi

Menjadi Tua Dengan Pilihan Sunyi

110
0
SHARE
Menjadi Tua Dengan Pilihan Sunyi

Keterangan Gambar : seorang lelaki menatap ulang hidupnya melalui sebuah lukisan tua di ruang tamu. Ia menyadari bahwa kesibukan bukan lagi ukuran keberhasilan, melainkan ketenangan tubuh dan hati.


Ugdnews.com - Senin 23/2/2036.

Memasuki usia paruh baya, seorang lelaki menatap ulang hidupnya melalui sebuah lukisan tua di ruang tamu. Ia menyadari bahwa kesibukan bukan lagi ukuran keberhasilan, melainkan ketenangan tubuh dan hati. Di antara rutinitas pagi yang sederhana, ia belajar menerima usia sebagai pilihan sadar, bukan beban, sambil perlahan berdamai dengan waktu, ingatan, dan dirinya sendiri.

Aku selalu memulai pagi dengan berdiri di depan lukisan itu. Bukan karena keindahannya, melainkan karena ia seperti cermin yang menolak jujur sepenuhnya. Seorang lelaki duduk di teras rumah, rambutnya mulai memutih, tangannya memegang segelas susu. Tatapannya tenang, nyaris terlalu tenang.

Lukisan itu tergantung tepat di dinding ruang tamu, menghadap kursi yang jarang diduduki siapa pun. Aku sering bertanya, mengapa pelukisnya memilih sudut seperti itu. Mengapa cahaya jatuh dari samping, bukan dari depan. Seolah ada sesuatu yang sengaja disembunyikan.

Memasuki usia paruh baya, hidup memang terasa berbeda. Tubuh mulai bicara dengan bahasa yang tidak bisa ditunda. Punggung lebih sering mengeluh, napas tak lagi panjang. Namun yang paling berubah justru cara hati menimbang hari.

Dulu aku mengukur hidup dari jadwal rapat dan tumpukan pekerjaan. Kini, aku mengukurnya dari pagi yang tidak tergesa. Dari tubuh yang tidak memprotes saat bangun. Dari kepala yang tidak ribut oleh hal hal yang tak bisa diubah.

Setiap pagi, aku menuang susu ke dalam gelas bening. Menelannya perlahan, tanpa pikiran ke mana mana. Di atas meja kecil, botol suplemen berdiri seperti penjaga sunyi. Bukan janji panjang umur, hanya usaha agar hari terasa bersahabat.

Lukisan itu selalu menyertaiku dalam ritual kecil tersebut. Aku duduk, menatapnya, dan sesekali merasa ia menatap balik. Ada hari hari ketika aku merasa lelaki di dalam lukisan itu tampak lebih segar dariku. Ada juga hari ketika ia terlihat letih, seperti menyimpan rahasia.

Aku pernah bekerja terlalu keras, terlalu lama mengabaikan tubuh. Mengira lelah bisa ditawar dengan ambisi. Mengira waktu selalu bisa dikejar. Lukisan itu seakan tahu semua itu, tanpa pernah menegur.

Suatu sore, aku memperhatikan detail yang sebelumnya luput. Gelas susu dalam lukisan itu tidak benar benar penuh. Ada bekas getaran kecil di permukaannya. Seolah tangan yang memegangnya sedikit gemetar.

Sejak saat itu, ada kegelisahan yang tak bisa kusebutkan. Rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Jam dinding berdetak terlalu pelan, lalu seperti berhenti. Aku tetap menjalani hari, meyakinkan diri bahwa semuanya baik baik saja.

Aku merawat tubuh, menjaga pikiran tetap jernih. Aku memilih menua dengan sadar. Bukan melawan waktu, melainkan berdamai dengannya. Setidaknya itu yang selalu kuucapkan pada diri sendiri. Pagi itu terasa ringan. Tidak ada nyeri, tidak ada cemas. Aku meneguk susu terakhir dari gelas, lalu duduk menghadap lukisan lebih lama dari biasanya. Ada rasa asing, seperti sedang pamit tanpa kata.

Ketika mata terpejam sejenak, aku merasa tenang. Tidak ada gelap, tidak ada sakit. Hanya hening yang lembut. Aku terbangun oleh sunyi yang berbeda. Ruang tamu terasa jauh, seolah kulihat dari balik kaca. Lukisan itu kini tampak utuh, lengkap, dan sangat nyata.

Barulah kusadari, tidak ada lagi kursi di depannya. Tidak ada gelas di tanganku. Tidak ada botol di meja. Lelaki di dalam lukisan itu tersenyum tenang. Dan untuk pertama kalinya, aku mengerti. Aku bukan lagi yang menatap lukisan itu. Aku adalah yang telah menetap di dalamnya.

( Red )

Sumber: Dwi Taufan Hidayat.

Iklan Detail Video

iklanhomebawah