Home Pendidikan Soroti Agenda Pembinaan ASN, Ketua PWMOI Jabar: Jangan Jadikan Disiplin Sekadar Formalitas

Soroti Agenda Pembinaan ASN, Ketua PWMOI Jabar: Jangan Jadikan Disiplin Sekadar Formalitas

265
0
SHARE
Soroti Agenda Pembinaan ASN, Ketua PWMOI Jabar: Jangan Jadikan Disiplin Sekadar Formalitas

Keterangan Gambar : beredarnya video yang menampilkan sejumlah oknum diduga ASN Dinas Pendidikan Kabupaten Garut tengah asyik bernyanyi karaoke di dalam bus. Rekaman tersebut diketahui diambil saat rombongan mengikuti agenda Pembinaan Disiplin Kerja ASN menuju Yogyakarta.


Ugdnews.com - Garut.

Polemik mencuat setelah beredarnya video yang menampilkan sejumlah oknum diduga ASN Dinas Pendidikan Kabupaten Garut tengah asyik bernyanyi karaoke di dalam bus. Rekaman tersebut diketahui diambil saat rombongan mengikuti agenda Pembinaan Disiplin Kerja ASN menuju Yogyakarta. Peristiwa ini menuai sorotan tajam dari Ketua DPW Perhimpunan Wartawan Media Online Indonesia (PWMOI) Jawa Barat, R. Satria Santika.

Pria yang akrab disapa Bro Tommy ini menilai peristiwa tersebut sebagai gambaran lemahnya sensitivitas birokrasi terhadap persoalan pendidikan yang nyata di lapangan. Menurutnya, kondisi dunia pendidikan di Garut saat ini masih jauh dari ideal, dengan banyak sekolah yang infrastrukturnya tidak layak, keterbatasan fasilitas belajar, hingga kesenjangan kualitas pendidikan antarwilayah.

“Yang kita pertanyakan bukan sekadar soal karaoke-nya, tapi soal pesan yang ditangkap publik. Di saat guru dan siswa di pelosok masih berjibaku dengan keterbatasan, aparatur justru mempertontonkan suasana santai dalam agenda yang seharusnya membangun integritas dan disiplin kerja,” tegas Bro Tommy, Sabtu (17/1/26).

Ia menekankan bahwa pembinaan disiplin ASN seharusnya menjadi ruang refleksi serius, bukan kegiatan formalitas yang kehilangan makna substantif.

“Disiplin itu bukan soal absensi atau seragam rapi. Disiplin adalah kesadaran moral, bagaimana aparatur menempatkan diri sebagai pelayan publik yang peka terhadap penderitaan masyarakat. Kalau agenda resmi saja diisi dengan aktivitas yang tidak relevan, wajar kalau publik mempertanyakan kualitas pembinaannya,” ujarnya.

Bro Tommy menilai, kejadian ini harus dijadikan bahan evaluasi menyeluruh, bukan sekadar klarifikasi normatif.

“Ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan pernyataan normatif atau pembelaan administratif. Harus ada evaluasi serius, siapa yang bertanggung jawab, bagaimana pola pembinaan selama ini, dan apakah benar program tersebut berdampak pada peningkatan kinerja ASN,” katanya.

Sorotan juga ia arahkan kepada Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Garut yang baru, H. Asep Wawan Budiman, S.Pd., M.Si., serta jajaran struktural di bawahnya.

“Pak Kadis yang baru punya momentum emas untuk melakukan pembenahan. Tapi pembenahan itu harus sistemik, bukan kosmetik. Libatkan semua unsur, mulai dari sekretaris dinas, para kepala bidang, pengawas sekolah, kepala sekolah, hingga korwil pendidikan. Kalau tidak, budaya kerja yang lama akan terus berulang,” tandasnya.

Ia juga meminta instansi pengawas seperti Inspektorat dan BKPSDM agar tidak tinggal diam.

“Jangan sampai ini dianggap hal biasa. Inspektorat dan BKPSDM harus turun, memastikan pembinaan ASN berjalan sesuai aturan dan etika birokrasi. Kalau perlu, buka hasil evaluasinya ke publik agar transparan,” ucapnya.

Di akhir pernyataannya, Bro Tommy menegaskan bahwa kritik ini bukan untuk menjatuhkan, melainkan sebagai bentuk kepedulian terhadap masa depan pendidikan di Garut.

“Kritik ini lahir dari kepedulian. Pendidikan adalah fondasi masa depan daerah. Kalau birokrasi pendidikannya tidak serius dibenahi, maka yang dirugikan adalah generasi kita sendiri,” pungkasnya.

(Tim)

Iklan Detail Video

iklanhomebawah