Home Artikel Cerpen: Borgol Hijau Dan Senja Yang Palsu

Cerpen: Borgol Hijau Dan Senja Yang Palsu

38
0
SHARE
Cerpen: Borgol Hijau Dan Senja Yang Palsu

Keterangan Gambar : Cerita ini bermula dari sebuah foto yang beredar luas di layar ponsel. Seorang pria paruh baya digiring aparat memasuki gedung bercat abu abu. Tangannya terikat borgol, kepalanya tertunduk, kaos hijau botol menempel di tubuhnya.


Ugdnews.com - Di balik foto seorang pria berbaju hijau botol dengan tangan terborgol, publik percaya keadilan akhirnya tiba. Namun bagi seorang perempuan renta, foto itu justru menjadi bingkai tipuan. Ia menutup satu kejahatan, sambil menyembunyikan kejahatan lain yang jauh lebih rapi, lebih sunyi, dan lebih berbahaya karena bersembunyi di balik kata hukum dan wajah kepercayaan.

Cerita ini bermula dari sebuah foto yang beredar luas di layar ponsel. Seorang pria paruh baya digiring aparat memasuki gedung bercat abu abu. Tangannya terikat borgol, kepalanya tertunduk, kaos hijau botol menempel di tubuhnya. Ribuan komentar membanjiri unggahan itu. Ada yang bersorak, ada yang memuji keberanian aparat, ada pula yang menulis satu kalimat pendek: akhirnya.

Aku memandangi foto itu lama. Lalu kuletakkan ponsel di meja kayu dekat jendela. Dari sana, cahaya senja selalu jatuh pelan ke ruang tamu rumah kecil ini. Di sudut ruangan, seorang perempuan tua duduk di kursi roda. Rambutnya memutih seluruhnya, punggungnya membungkuk, tetapi matanya masih menyimpan ingatan yang tajam. Aku memanggilnya Nenek Laras, meski nama itu bukan nama yang dikenal publik.

Sudah selesai, Nek, kataku lirih sambil menunjuk ponsel.

Ia tersenyum tipis. Senyum yang tidak benar benar lega. Seperti seseorang yang tahu bahwa sebuah cerita belum mencapai halaman terakhirnya.

Beberapa bulan lalu, rumah ini bukan tempat senyap seperti sekarang. Siang itu, pintu depan digedor keras berkali kali. Suaranya memantul di dinding, membuat dadaku bergetar. Sebelum aku sempat membuka, pintu didobrak dari luar. Puluhan orang berseragam merah menyerbu masuk. Wajah mereka dingin, langkah mereka serempak, seperti pasukan yang sudah dilatih untuk tidak ragu.

Nenek Laras yang sedang duduk di ruang tamu hanya sempat bertanya, ada apa ini, sebelum empat orang mengangkat tubuhnya. Dua tangan menarik kaki tuanya, dua tangan lain mencengkeram pergelangan tangannya. Ia meronta sekuat tenaga yang tersisa. Aku masih ingat suara napasnya yang tersengal, dan bunyi kursi yang terbalik menghantam lantai.

Aku berteriak, memohon, mendorong satu di antara mereka, tetapi lenganku ditepis kasar. Nenek Laras menggigit bibirnya sendiri menahan sakit. Darah mengalir tipis dari sudut mulutnya. Dalam hitungan menit, ia sudah tergeletak di luar pagar, bersama sebuah tas kecil berisi pakaian dan obat obatan.

Hari itu, aku merasa gagal sebagai manusia.

Nama pria dalam foto itu adalah Rangga Pradipta. Setidaknya itu nama yang kami kenal. Ia muncul dengan klaim bahwa rumah ini telah dibelinya bertahun tahun lalu. Aneh, selama lebih dari satu dekade, ia tidak pernah datang, tidak pernah menagih, tidak pernah memberi kabar. Hingga suatu hari, ia datang bersama pasukan merah dan keyakinan yang memekakkan.

Kami lalu bertemu dengan seorang kuasa hukum bernama Adrian Mahesa. Penampilannya rapi, suaranya tenang, tutur katanya penuh empati. Ia berkata, kasus ini memang rumit, tetapi kebenaran selalu menemukan jalannya. Kalimat itu membuatku ingin percaya. Nenek Laras menggenggam tanganku erat saat mendengarnya.

Penyelidikan demi penyelidikan membuka kejanggalan. Ada akta jual beli yang aneh. Nama penjual dan pembeli tercantum sama. Ada catatan tanah desa yang dicoret dan diubah tanpa persetujuan ahli waris. Dokumen asli milik Nenek Laras menghilang bersamaan dengan pengusiran itu. Semuanya terasa tidak masuk akal, namun entah bagaimana tercatat rapi di atas kertas.

Ketika foto Rangga digiring dengan borgol akhirnya tersebar, orang orang menyebutnya titik terang. Media memajang wajahnya di halaman utama. Aku pun hampir percaya bahwa luka Nenek Laras akan segera sembuh, setidaknya di batin. Namun malam itu, ketika rumah kembali sunyi, ia memintaku duduk lebih dekat.

Kamu tahu kenapa aku tidak benar benar lega, katanya pelan.

Aku menggeleng.

Karena yang ditangkap itu hanya orang yang berteriak paling keras.

Ia lalu bercerita tentang kakaknya yang telah lama wafat, tentang tanah yang diwariskan, tentang surat surat lama yang ia simpan puluhan tahun di laci kayu. Ia tahu ada permainan yang lebih besar dari sekadar orang berseragam merah. Ia tahu, kejahatan tidak selalu datang dengan suara bising.

Keesokan paginya, sebuah pesan masuk ke ponselku dari nomor tak dikenal. Isinya singkat dan dingin. Jangan puas terlalu cepat. Periksa laci ketiga.

Tanganku gemetar saat membuka laci yang dimaksud. Di sana ada salinan dokumen lama, catatan tangan yang mulai pudar, dan sebuah tanda tangan di sudut kertas. Aku menatapnya lama. Jantungku berdegup keras. Tanda tangan itu bukan milik Rangga. Aku mengenalnya. Terlalu mengenalnya.

Nama yang tertera di bawahnya adalah Adrian Mahesa.

Saat itu, foto Rangga yang terborgol tiba tiba kehilangan maknanya. Ia bukan akhir, melainkan pengalih perhatian. Orang yang terlihat paling kasar ternyata hanya pion. Dalang sesungguhnya berdiri di ruang sidang, berbicara tentang hukum, sambil menyusun kejahatan dengan bahasa yang sopan dan wajah yang meyakinkan.

Aku kembali ke ruang tamu. Nenek Laras menatapku, seolah ia sudah membaca isi pikiranku.

Sekarang kamu mengerti, katanya pelan.

Di luar, senja jatuh perlahan, sama seperti hari hari sebelumnya. Foto borgol hijau itu masih terpajang di layar ponselku. Bukan lagi sebagai simbol kemenangan, melainkan sebagai pengingat pahit bahwa keadilan bisa dipalsukan, dan kejahatan paling berbahaya sering kali bersembunyi di balik orang yang kita percayai sepenuhnya.

( Red )

Sumber: Dwi Taufan Hidayat.

Iklan Detail Video

iklanhomebawah