Home Artikel Cerpen: Tanah Dunia Dalam Bayang Mahkota

Cerpen: Tanah Dunia Dalam Bayang Mahkota

208
0
SHARE
Cerpen: Tanah Dunia Dalam Bayang Mahkota

Keterangan Gambar : Cerita ini bermula dari sebuah foto besar di lorong arsip nasional. Seorang raja tanpa nama berdiri tegak dengan wajah tenang, berlatar bendera kerajaan dan cahaya keemasan ruangan istana.


Ugdnews.com - Di balik kemilau seragam kebesaran dan simbol kekuasaan, terbentang kisah tentang tanah yang melampaui peta dan imajinasi. Cerita ini mengikuti perjalanan seorang arsiparis muda yang menelusuri jejak kepemilikan global keluarga monarki. Awalnya ia mengira sedang menyusun laporan sejarah aset, hingga satu temuan sunyi mengubah makna kepemilikan itu sendiri.

Cerita ini bermula dari sebuah foto besar di lorong arsip nasional. Seorang raja tanpa nama berdiri tegak dengan wajah tenang, berlatar bendera kerajaan dan cahaya keemasan ruangan istana. Di sisi bahunya, sebuah globe dunia dipajang seolah melayang. Bagi banyak orang, foto itu melambangkan kejayaan. Bagi Arvin, arsiparis muda yang baru dua tahun bekerja, foto itu terasa seperti teka teki yang belum terpecahkan.

Arvin mendapat tugas menyusun narasi populer tentang kepemilikan tanah keluarga monarki Albion Raya. Tugas itu tampak sederhana dan prestisius. Ia diminta merangkum aset yang mencakup kota kota tua, hutan lebat, lahan pertanian subur, pantai yang masih alami, hingga kawasan hunian mewah yang menghadap laut. Semua properti itu dikelola oleh sebuah lembaga resmi bernama Estate Mahkota.

Di ruang arsip yang sunyi, peta peta raksasa terbentang di meja kayu panjang. Garis garis kepemilikan merambat lintas benua, menghubungkan wilayah yang berjauhan seperti jalinan saraf raksasa. Dari dataran hijau di selatan hingga pelabuhan berkabut di utara. Catatan statistik mencatat satu angka yang membuat Arvin berhenti menulis. Sekitar enam belas persen daratan dunia tercatat berada dalam lingkup pengelolaan mahkota.

Narasi resmi menjelaskan bahwa seluruh aset tersebut digunakan untuk kepentingan publik dan keberlanjutan kerajaan. Pendapatan bernilai miliaran mengalir untuk konservasi alam, pembangunan kota, perawatan situs sejarah, serta pembiayaan lembaga negara. Raja Alaric III digambarkan sebagai pengawas utama yang memadukan warisan berabad abad dengan sistem pengelolaan modern yang tertib dan transparan.

Namun semakin dalam Arvin membaca dokumen lama, semakin tumbuh kegelisahan. Ia mencatat pertanyaan yang tidak tercantum dalam laporan resmi. Mengapa pantai pantai yang disebut alami sulit diakses warga. Mengapa kota kota tampak hidup namun hak atas tanahnya nyaris tak pernah berpindah. Ia mulai menulis dengan kehati hatian, memuji di satu kalimat, lalu berhenti sejenak di kalimat berikutnya, memberi ruang bagi keraguan.

Suatu sore, saat hampir semua staf pulang, Arvin membuka sebuah laci kayu tua yang jarang disentuh. Di dalamnya tersimpan buku kecil tanpa lambang resmi. Isinya bukan peta atau laporan keuangan, melainkan kontrak kontrak kuno dengan bahasa yang padat sumpah dan simbol. Di salah satu halaman tertulis kalimat yang membuatnya terdiam. Tanah tidak dimiliki, melainkan dititipkan oleh sejarah kepada mahkota untuk dijaga atas nama semua.

Kalimat itu terdengar indah, hampir puitis. Terlalu puitis untuk sebuah dokumen hukum. Arvin membaca ulang berkali kali, mencoba memahami maksud di baliknya. Ia mulai menyadari bahwa narasi kepemilikan absolut mungkin hanyalah lapisan luar. Ia lalu menyusun ceritanya dengan menonjolkan paradoks. Kekayaan yang tampak mutlak namun diklaim kolektif. Kekuasaan yang luas namun selalu dibungkus bahasa pengabdian.

Dalam tulisannya, Arvin membingkai Albion Raya sebagai anomali zaman modern. Sebuah monarki yang bertahan bukan dengan penaklukan, melainkan dengan administrasi. Pembaca diajak mengagumi skala kekuasaan, lalu perlahan diajak mempertanyakan maknanya. Cerita itu bergerak halus, seperti air yang mengikis batu, tanpa tuduhan langsung dan tanpa pujian berlebihan.

Ketika naskah hampir rampung, sebuah memo tanpa nama muncul di mejanya. Hanya satu kalimat pendek. Cari halaman terakhir. Arvin kembali membuka buku kecil itu dengan jantung berdebar. Di halaman paling belakang, terdapat catatan tangan yang tintanya hampir pudar. Bukan kontrak, bukan pula laporan. Sebuah pengakuan yang ditulis dengan nada lelah.

Catatan itu menjelaskan bahwa Estate Mahkota hanyalah cermin hukum. Tanah tanah tersebut tidak pernah benar benar dimiliki oleh keluarga kerajaan. Kepemilikan itu adalah konstruksi hukum untuk mencegah penjualan, perampasan, dan spekulasi lintas generasi. Mahkota berperan sebagai penahan, bukan penguasa. Semua aset dicatat atas nama mahkota agar tidak jatuh ke tangan siapa pun.

Arvin menutup buku itu dengan tangan gemetar. Selama ini dunia memperdebatkan keserakahan dan dominasi, padahal yang terjadi adalah penguncian. Enam belas persen daratan dunia bukan untuk dikuasai, melainkan dibekukan dari pasar. Sebuah sistem yang menjadikan monarki sebagai tameng, siap menanggung cercaan demi menjaga tanah tetap utuh.

Ia menulis ulang bagian penutup ceritanya. Bukan sebagai pembelaan, bukan pula sebagai gugatan. Ia memilih akhir yang tenang dan reflektif. Dalam paragraf terakhir, ia menulis bahwa keluarga kerajaan Albion Raya bukanlah pemilik tanah terbesar di dunia. Mereka hanyalah penjaga paling setia dari sesuatu yang pada hakikatnya tidak boleh dimiliki siapa pun.

Ketika tulisan itu dipublikasikan, reaksi publik beragam. Ada yang marah, ada yang merasa tercerahkan. Perdebatan mengalir deras di ruang ruang diskusi. Namun bagi Arvin, satu hal menjadi jelas. Dunia lebih mudah percaya pada narasi kekuasaan daripada pada pengorbanan yang disamarkan. Ia kembali menatap foto di lorong arsip. Globe yang dulu tampak seperti simbol genggaman, kini ia lihat sebagai beban berat yang sengaja dipilih untuk dipikul.

( Red )

Sumber: Dwi Taufan Hidayat.

Iklan Detail Video

iklanhomebawah