Home Daerah DPW MOI Jabar Dukung Sikap Polri : Produk Jurnalistik Tak Bisa Dijerat UU ITE

DPW MOI Jabar Dukung Sikap Polri : Produk Jurnalistik Tak Bisa Dijerat UU ITE

Rekan-rekan wartawan yang dikriminalisasi oleh karena itu DPW PW-MOI Jabar akan selalu siap membelanya dan akan dibantu oleh advokat teruji

277
0
SHARE
DPW MOI Jabar Dukung Sikap Polri : Produk Jurnalistik Tak Bisa Dijerat UU ITE

Keterangan Gambar : Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Perkumpulan Wartawan dan Media Online Indonesia (PWMOI) Provisi Jawa Barat, R. Satria Santika (Bro Tommy)

Ugdnews.com-Garut- Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Perkumpulan Wartawan dan Media Online Indonesia (PWMOI) Provisi Jawa Barat, R. Satria Santika sangat mengapresiasi Kepolisian Republik Indonesia, seperti yang pernah disampaikan Wakil Kepala Polri (Wakapolri) terdahulu, Komjen Pol Agus Andrianto, SH. MH terkait posisi hukum produk jurnalistik atau pers yang tak boleh dibawa ke ranah pidana.

Bro Tommy sapaan akrab Ketua DPW PW-MOI Jabar ini mengingatkan bahwa pernyataan dari Wakapolri Agus Ardianto tersebut harus jadi pegangan bagi seluruh jajaran kepolisian di Indonesia.

Menurut dia banyak wartawan yang bekerja sesuai UU Pers 40 Tahun 1999, masih dikriminalisasi. Padahal memiliki bukti atas pemberitaan dan memenuhi syarat sebagai wartawan.

“Masih ada rekan-rekan wartawan yang dikriminalisasi oleh karena itu DPW PW-MOI Jabar akan selalu siap membelanya dan akan dibantu oleh advokat teruji,” sambungnya.

Kedepan, Tommy menilai jika masih ada upaya kriminalisasi wartawan menggunakan UU ITE, maka dukungan Wakapolri Agus Andrianto dan penegak hukum lainnya itu menjadi penting.

“Kita hargai sikap penegak hukum seperti ini. Sebab pers juga merupakan pilar keempat demokrasi,” ujarnya.

Sebelumnya, Wakapolri Komjen Pol Agus Andrianto,SH. MH pada momentum Hari Pers Nasional (HPN) mengingatkan seluruh pihak bahwa produk jurnalistik yang diproduksi melalui mekanisme jurnalisme yang sah dari perusahaan pers berbadan hukum Hukum, tidak dapat dibawa ke ranah pidana.

Produk tersebut juga tidak dapat dijerat Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2018 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik atau ITE.

“Untuk kasus yang memang muncul adalah sesuatu yang hal benar (berita), wartawannya juga tidak boleh memproses kalau memang informasi itu benar, bukan fitnah,” ujar Tommy.

Dikatakannya hal ini merupakan bagian dari kesepakatan antara Polri dengan Dewan Pers. Kesepakatan yang diperbarui itu wajib dipatuhi oleh kepolisian.

“Kesepakatan itu melindungi pemberitaan yang diproduksi oleh perusahaan pers yang diakui Dewan Pers,” tambahnya.

Seluruh anggota kepolisian, lanjut Tommy, harus menggunakan mekanisme pertahanan sesuai aturan yang ditetapkan Dewan Pers serta Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

“Kalau masih memungkinkan, penegakan hukum itu menjadi pintu terakhir, tetapi setelah mencapai klarifikasi, upaya mediasi para pihak. Kalau sudah mentok, baru memutuskan apakah penyelidikannya dilanjutkan atau tidak,” ungkapnya.

Sementara Asisten Kapolri Bidang Sumber Daya Manusia (As SDM) Irjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan media sosial dan media massa siber adalah dua produk berbeda.

Media sosial, kata dia, dibuat tanpa konfirmasi maupun diklarifikasi. Sedangkan media massa siber sebaliknya, media perusahaan pers bisa diberitahukan maupun dimintai klarifikasi apabila terjadi kekeliruan pemberitaan.

“Bagi teman-teman media, semua produk yang dihasilkan dilindungi Undang-undang. Saat ini kecepatan di media sosial bisa mencakup semua tanpa batas waktu dan wilayah. Tapi, produk jurnalistik harus bisa dipertanggungjawabkan baik diklarifikasi maupun dikonfirmasi,” tuturnya.

Sebagai Kepala Divisi Humas Mabes Polri periode 2021-2023, kata Dedi menambahkan, produk jurnalistik justru memberikan sosialisasi, edukasi dan memberikan pencerahan bagi masyarakat. Inilah yang tidak dimiliki produk atau konten yang ada di media sosial yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

“Kami berharap media masa bahu membahu memerangi konten berbau hoaks. Teman-teman media jauh lebih lugas menghadapi bersama-sama Pemilu 2019 yang sangat panjang dan keras, dan sudah menghadapi sebelumnya. Teman-teman media juga punya tanggung jawab besar terhadap negeri ini apalagi di tahun Pemilu 2024,” tandasnya.

Karowassidik Bareskrim Polri, Brigjen Pol Iwan Kurniawan pada kesempatan itu menyebutkan telah melakukan sosialisasi bertepatan dengan Hari Pers tahun 2023 kepada semua penyidik ​​​​di Sumatera Utara terkait penanganan perkara Pers.

"Saya yakin di Sulawesi Selatan juga disosialisasikan seperti itu. Dilaksanakan MoU kepada seluruh rekan-rekan peneliti, setiap produk-produk jurnalistik itu tidak boleh dipidana. Karena produk jurnalistik melalui penilaian, verifikasi, konfirmasi, dan itu adalah kewenangan Dewan Pers," katanya.

“Namun, Dewan Pers bukan berarti menangani sendiri apa yang menjadi laporan atau pengaduan dari semua pihak. Para pihak yang merasa setuju dengan berita yang dihasilkan media itu Dewan Pers yang menilai. Boleh dikatakan pemanggilan, melakukan diskusi dan ada tahapan-tahapannya. Jadi, tidak bisa produk jurnalistik yang betul-betul perusahaan mendaftarkan itu dipidana, tidak bisa,” ungkap Iwan.

(Red) 

Iklan Detail Video

iklanhomebawah